Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

BNN : Butuh Dukungan Semua Pihak Untuk Mencegah Penyalahgunaan Narkotika

  • 14 Oktober 2021
  • 18:05 WITA
  • Denpasar
  • Dibaca: 1117 Pengunjung
Workshop penguatan kapasitas Insan Media untuk mendukung Kota tanggap ancaman narkoba di Bali Dynasty Resort Jalan Kartika Plaza, Tuban, Kuta

Badung, suaradewata.com – Penyalahgunaan narkotika di tengah masyarakat kian memprihatinkan bahkan bisa disebut darurat narkoba. Guna mencegah penyalahgunaannya, tidak cukup hanya dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) melainkan butuh dukungan serta kerjasama stake holder serta masyarakat luas. "Tidak mungkin dilakukan oleh BNN sendiri, jadi dibutuhkan dukungan steak holder yang lain dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba," tegas Kepala BNN Provinsi Bali Brigjen Pol. Drs. Gde Sugianyar Dwi Putra dalam workshop penguatan kapasitas kepada Insan Media untuk mendukung Kota tanggap ancaman narkoba di Bali Dynasty Resort Jalan Kartika Plaza, Tuban, Kuta, Kamis, (14/10/2021).

Menurutnya pada tahun 2020 di Bali sedikitnya tercatat 15.000 kasus narkoba. Dia kemudian mengilustrasikan kondisi di Lapas Kerobokan 70 persen adalah kasus narkotika. Sehingga hal ini menjadi tantangan tersendiri bagaimana mencegah penyalahgunaan narkotika di masyarakat. 

"Khususnya di Lapas Kerobokan overcapasity nya 500 persen, sehingga proses penegakan hukum kepada mereka terkena kasus narkoba tidak bisa dilakukan dari sisi penegakan hukum semata. Tapi ada pendekatan dari sisi kesehatan seperti rehabilitasi," jelasnya.

Menurutnya proses rehabilitasi itu lebih efektif dilakukan di rumah sakit dari pada di Lapas. Pihaknyapun menghimbau, jika ada anggota keluarganya menggunakan narkotika agar melapor ke BNN untuk dilakukan Rehabilitasi dan tidak dipungut biaya serta indentitas yang melapor dijamin kerahasiaannya oleh Negara. "Kita BNN bekerja sama dengan kepolisian dan penegakan hukum lainnya sepakat untuk melakukan pendekatan kesehatan yakni rehabilitasi. Tapi melalui assessment dari BNN sendiri. Kalau memang dia pengedar ya harus tindak keras dengan penegakan hukum," terangnya.

Hal serupa diungkapkan Kabid (P2M) Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNN Provinsi Bali, AKBP. I Ketut Suandika, SH.MH. menyebutkan masih banyak terdapat masyarakat yang minim pengetahuan tentang seluk beluk bahayanya narkotika. Hal ini ditemukan saat dirinya melakukan edukasi ke masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan narkotika. "Pengetahuan masyarakat seluk beluk narkotika masih kurang," ucapnya.

Pria asal Mambal ini menerangkan, mengapa narkotika jika digunakan akan ingin menggunakan kembali (ketagihan) ingin lagi karena Sifat HABITUAL dari narkotika. Kemudian ada sifat ADIKTIF yang  menyebabkan tidak bisa berhenti/ketergantungan,  Bila tidak dapat narkitika  narkotika dia akan Sakau karena putus zat. Kemudian ada sifat TOLERAN yang menyebabkan Kecanduan ( menambah dosis untuk mendapatkan reaksi/rasa yang diinginkan.

"Sekali mencoba pingin lagi ketagihan, dan adiktif yang mengakibatkan  tidak bisa berhenti. Kalau tidak mendapatkan efeknya rasa sakit luar biasa dan bisa menyebabkan ngamuk ngamuk. Artinya Tidak bisa diobati dengan obat Dokter," terangnya.

Sementara Plt. Kepala BNN Kabupaten Badung Kompol Anak Agung Gde Mudita dalam acara workshop tersebut mengingatkan masyarakat untuk tidak coba-coba menggunakan narkotika. Pasalnya, bila terkena narkotika akan berdampak fatal bagi tubuh manusia. "Kami ingatkan kepada masyarakat agar jangan sekali kali mencoba narkotika, karena sekali kena tidak bisa putus dan tidak ada obatnya," tegasnya.

Kompol Agung Mudita mengatakan, narkotika ini sangat berbahaya dan dapat menggangu sistem syaraf dalam tubuh. Sehingga diharapkan masyarakat menghindari penyalahgunaan narkotika. "Untuk saudara saudara kita yang belum terkena narkotika agar tidak tergoda dengan ajakan yang menyesatkan, karena sekali mencoba tidak bisa hilang. Yang terserang adalah syaraf kita yang terkena," ujarnya.

Dipihak lain Bagian Protokol Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Pemerintah Kabupaten Badung Bagus Andhita mengatakan Inpres nomer 2 tahun 2020 tentang rencana aksi Nasional pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika dan prekusor narkotika masih belum optimal dilakukan oleh komponen bangsa. 

"Kaitan dengan Inpres jelas jelas mengintrusikan seluruh komponen negara untuk melakukan pencegahan, namun masih ada peran bangsa kita yang belum menangkap sense of urgensi melakukan inpres tersebut," ungkapnya.

Menurutnya, dengan adanya inpres tersebut seharusnya semua komponen bangsa melaksanakan bersama-sama, baik dari Pemerintah, Media maupun masyarakat. Sehingga pencegahan penyalahgunaan masif di Indonesia, karena Indonesia masuk nomer 3 di Dunia darurat narkoba.

"Dengan adanya inpres tersebut, semua komponen bangsa diharapkan melaksanakan kampanye publik dalam pencegahan narkoba dan menganggap ini adalah perang bangsa bersama," ujarnya. ang/nop/red

 


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER