Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Refleksi Hari Lahir Pancasila, Masalah Krisis Air Balangan Menjadi Sorotan Yang Belum Terpecahkan

  • 02 Juni 2021
  • 17:55 WITA
  • Badung
  • Dibaca: 1484 Pengunjung
istimewa

Badung, suaradewata.com - Hari lahir Pancasila 1 Juni 2021, menjadi ajang refleksi bagi masyarakat di desa adat balangan, mengwi badung. Momen nasional yang ditetapkan kembali sebagai hari nasional oleh Presiden jokowi melalui keputusan presiden nomor 24 tahun 2016 ini, dimanfaatkan warga untuk ikut serta dalam forum refleksi Pancasila.  

Forum yang diinisiasi oleh DPC GMNI Denpasar Front Marhaenis (GMNI FM) ini memberi ruang untuk masyarakat mencurahkan keluh kesah kebangsaan. Acara yang ditutup dengan agenda pembagian Buku Pidato Lahirnya Pancasila itu dihadiri antara lain oleh Bendesa Desa Adat Balangan, Kelian Dinas Balangan Kangin, Pekaseh Subak Balangan, Pekaseh Subak Uma Tegal, dan Warga Masyarakat Desa Adat Balangan. 

Menurut Kadek Widi Angga Hadinata, Selaku koordinator kegiatan, forum yang dibentuk tersebut bertujuan membuka ruang-ruang komunikasi yang tersumbat yang ada dalam benak masyarakat, tapi tidak tersalurkan.  

"Ini kita sedang mencoba mendekatkan kembali, merekatkan kembali bagaimana demokrasi musyawarah-mufakat kita itu sebenarnya. Membuka lagi lembaran tentang demokrasi yang diidamkan Bung Karno, yang tidak hanya semata-mata demokrasi politik tapi juga demokrasi ekonomi. Melalui forum refleksi Pancasila ini, dibuka ruang untuk masyarakat bicara, terutama tentang penguatan nasionalisme hingga kesejahteraan sosial. Forum ini jadi ruang buka-bukaan, menggali isi hati masyarakat yang merupakan inti dari kebangsaan Indonesia,” ungkap Angga yang juga menjabat Ketua Bidang Kaderisasi DPC GMNI Denpasar Front Marhaenis (GMNI FM). 

Dalam kegiatan tersebut, warga masyarakat diajak untuk membincangkan pikirannya, menggali masalah-masalahnya secara mengalir. Dari sekian banyak hal yang menjadi perbincangan reflektif, Made Arbajaya Andika menyebut masalah krisis air di jalur irigasi Palian menuju jaringan Sekunder Balangan masih menjadi sorotan utama masyarakat. 

"Untuk isu, krisis air  kegiatan pertanian masih menjadi beban masyarakat Subak Balangan. Kita menyorotinya sebagai isu kesejahteraan sosial ya, ini ruang dimana negara harus hadir, tp ternyata belum maksimal," tegas Arbajaya, Sekretaris DPC Karteker GMNI FM. 

Terkait krisis air, Pekaseh Subak balangan, Ketut Matra Yasa, menyebut bahwa kelompok petani dibuat putus asa menunggu pemenuhan janji BWS Bali-Penida yang telah disepakati.  

"Kami tidak tahu sampai kapan akan dilakukan pembongkaran beton di Palian, padahal kesepakatan sudah dibuat, tapi selalu dibahas ulang lagi, lalu mundur lagi, sampai sekarang seperti tidak ada informasi lagi, seolah masalahnya sudah selesai," keluh Matra Yasa. 

Di sisi lain, Bendesa Adat Desa Adat Balangan, Made Sumarta menyoroti bahwa semakin ke belakang, nampaknya isu semakin berubah, seolah kami dibenturkan dengan subak di Palian.

 

"Kami bersaudara dengan masyarakat Palian dan Subak Palian. Bagaimanapun Palian adalah hulu kami, dan kami adalah hilir. Kami tidak mau berbenturan, BWS kami harap tidak membiarkan ini terus berlarut. Kami selalu meyakini negara hadir demi kemerataan kesejahteraan masyarakat," pungkas Made Sumarta yang pada intinya menyayangkan tarik ulur yang cenderung ditunjukkan oleh BWS Bali-Penida.  

Untuk masalah ini, di forum peringatan Hari Lahir Pancasila tersebut bersepakat untuk menanyakan kembali untuk terakhir kali kepada BWS Bali-Penida soal permasalahan ini. 

"Kami akan meneruskan tuntutan ini kehadapan BWS. Walaupun ini sudah kesekian kali, bahkan telah menjadi atensi Ombudsman. Sesuai komitmen GMNI untuk pro Marhaen, wajib bagi kami menjadi penyambung lidah masyarakat kepada pemimpinnya. Komunikasi rakyat dan pemimpin ini kadang terdistorsi, kami rasakan wajib untuk hadir sebagai penjembatan." tegas Widi Angga. 

Ditanyai mengenai esensi dari kegiatan refleksi Lahirnya Pancasila, Widi Angga menyatakan bahwa bergotong royong untuk pemecahan permasalahan di masyarakat adalah inti dari kebangsaan Indonesia yang menurutnya didasarkan pada pemikiran terkait pendirian "Negara semua untuk semua". 

"Menjaga kebangsaan kita, sebenarnya bukan semata tugas dharma GMNI saja, tapi tugas kemanusiaan semua warga negara Indonesia, tugas budi nurani terhadap kemanusiaan, saya kira seperti itu harapan kedepannya, negara ini menjelma seperti das sollen-nya sebagai Negara Semua untuk semua", tutup Widi Angga Hadinata, yang juga adalah mahasiswa Fakultas Dharma Duta Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, GMNI FM bersama Subak Balangan dan Subak Uma Tegal mengalami krisis air akibat adanya pembetonan Bangunan Bagi BPL.4, yang ada di D.I. Pama Palian. Kesepakatan pembongkaran telah ditetapkan, BWS Bali-Penida sebagai instansi yang berwenang untuk melakukan normalisasi, menentukan merealisasikannya 30 hari terhitung sejak tanggal 1 April 2021. Normalisasi dalam hal ini adalah mengembalikan bangunan Bagi BPL4. di D.I. PAMA Palian agar sesuai gambar awal skema irigasi. Ternyata realisasi kesepakatan tersebut tidak pernah terjadi sampai berita ini diterbitkan.rls/ang/nop


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER