Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Bupati dan Ketua DPRD Buleleng Batal Divaksin, Alasan Tekanan Darah Tinggi

  • 27 Januari 2021
  • 19:10 WITA
  • Buleleng
  • Dibaca: 1310 Pengunjung
Bupati Buleleng memantau proses pelaksanaan vaksinasi Covid-19, di RSUD Buleleng

Buleleng, suaradewata.com - Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana bersama Ketua DPRD Buleleng, Gede Supriatna batal divaksin Covid-19 pada hari pertama, yang berlangsung di RSUD Buleleng pada  Rabu (27/1/2021), menyasar para pimpinan/perwakilan dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Buleleng.

Alasannya, karena tekanan darah tinggi, sehingga tidak memenuhi kriteria untuk diberikan vaksin. Meski demikian masyarakat tetap diminta tidak takut divaksin. Ini diperlukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Suradnyana mengaku, sangat ingin untuk divaksin. Namun, kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk menerima vaksin. Sehingga dirinya bersama Ketua DPRD Buleleng Gede Supriatna tidak lolos screening awal, karena tekanan darahnya masih tinggi. Jika kondisinya sudah normal, dirinya akan mengikuti program vaksinasi.

"Paginya saya sudah ukur tensi (tekanan darah) saya masih 170. Kalau sudah normal saya pasti menerima vaksin. Dalam waktu dekat. Jika dalam tiga hari sudah normal, hari itu juga saya divaksin," ujar Suradnyana.

Suradnyana mengatakan, jika persyaratan sudah terpenuhi, masyarakat diharapkan mau dan segera mengikuti vaksinasi. Jika waktu sudah tersedia dan sudah terdaftar serta memenuhi syarat, masyarakat agar melaksanakan vaksinasi. "Ini agar pandemi cepat berakhir dan bisa beraktivitas normal kembali," kata Suradnyana.

Sementara Supriatna mengaku, belum bisa menerima vaksinasi, terkendala tekanan darah melebihi batas maksimal dipersyaratkan. "Saya harap, pemerintah memberi penambahan jumlah vaksin untuk Buleleng, sehingga masyarakat memenuhi syarat dapat divaksin," ujar Supriatna

Sekda Buleleng, Gede Suyasa menjadi salah satu pejabat yang sudah menerima vaksin. Menurut Suyasa, tidak ada efek ikutan setelah disuntikkan vaksin. Bahkan observasi pun telah dilakukan terhadapnya selama 30 menit setelah penyuntikan. Hasilnya, tidak ada efek apapun yang dirasakan.

"Saya hanya merasakan seperti dicubit saja saat penyuntikan. Setelah itu, tidak merasakan apa-apa. Ya saya berharap, tidak ada Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi," ungkap Suyasa.

Suyasa juga mengajak masyarakat untuk tidak ragu terhadap vaksin ini. Yakinkan diri bahwa vaksinasi ini merupakan cara yang tepat dari pemerintah memutus penularan Covid-19. "Mulainya serentak di seluruh fasilitas kesehatan yang ditunjuk. Tidak memerlukan waktu lama. Penyuntikan hanya beberapa detik. Observasi yang memerlukan waktu 30 menit," tandas Suyasa. rik/nop


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER