Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Masyarakat di Daerah Menolak Kunjungan Rizieq Shihab

  • 28 November 2020
  • 16:35 WITA
  • Nusantara
  • Dibaca: 1224 Pengunjung
Google

Opini,suaradewata.com - Rizieq Shihab tiba di Indonesia dan bersemangat untuk melakukan safari ceramah. Namun sayang niatnya ditolak mentah-mentah oleh banyak orang di berbagai kota. Mereka melarang sang Rizieq untuk berceramah, karena dianggap sebagai pembuat onar dan pemecah-belah persatuan Indonesia.
Pimpinan FPI  Rizieq Shihab dikenal sebagai sosok yang berorasi tanpa tedeng aling-aling. Karakternya yang keras terbaca dari isi ceramah yang sangat provokatif dan mengajak pengikutnya untuk melakukan jalan kekerasan. Tak peduli siapa musuhnya, anggota ormas diperbolehkan untuk melakukan kekejaman. Ia juga menggunakan kata yang sangat kasar dan tak pantas didengar.
Ceramah  Rizieq yang provokatif membuat masyarakat menolak kedatangannya. Memang ia merencanakan safari ceramah dari kota ke kota. Rupanya setelah 3,5 tahun lari ke Arab,  Rizieq rindu pidato di depan jamaahnya. Namun sayang penolakan dari berbagai elemen masyarakat membuatnya harus pikir-pikir sebelum berangkat.
Di Medan, massa yang menamakan diri sebagai Laskar Front Pembela Pancasila melarang Habib Rizieq untuk datang ke Sumatera. Mereka cukup emosi sampai menjadi perhatian publik. Aksi yang diadakan di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara dilakukan, karena Habb Rizeq dianggap sebagai pemecah belah umat dan suka melakukan hate speech.
Zulkarnain, koordinator aksi, menyatakan bahwa seharusnya Habib Rizieq tidak mengabaikan protokol kesehatan. Selain itu, sebagai keturunan Nabi seharusnya ia meniru teladannya. Namun Habib Rizieq malah menghina umat lain. Pria ini juga meminta Gubernur Sumut Edy Rachmayadi untuk tak memberi izin jika Habib Rizieq akan singgah ke Medan.
Selain di Medan, di Banten juga ada gelombang penolakan yang sama. Bahkan ada beberapa kelompok yang kompak melakukannya, dari Anshor, Banser, dan Laskar Pendekar Banten Sejati. Komariha, koordinator aksi, menyatakan bahwa mereka menolak kedatangan Habib Rizieq karena akan membuat keresahan di Banten. Rizieq juga suka mengumbar kebencian ke pihak lain.
Penolakan massal di daerah ini sayangnya ditanggapi negatif oleh FPI. Mereka tak gentar dan berencana akan terus melakukan safari ceramah, dan tak mempedulikan kelompok yang melarang kedatangan Habib Rizieq. Sayangnya ormas ini tetap nekat dan jika benar-benar melakukan safari, akan ada penolakan yang lebih besar lagi.
Jika ada kelompok masyarakat yang menolak kedatangan Habib Rizieq untuk berceramah, memang sangat wajar. Karena ia tak pernah memberi kesejukan pada jamaahnya, namun malah mengajak untuk berperang melawan musuh. Padahal kita sudah merdeka. Siapa lagi musuhnya? Sebenarnya musuh manusia adalah hawa nafsunya sendiri.
Ceramah Habib Rizieq juga kontroversial karena sangat provokatif dan menggunakan diksi yang kasar. Bagaimana bisa di acara keagamaan muncul kata yang terlarang? Seharusnya ia menghaluskannya dan menggunakan istilah lain. Namun ngotot berceramah dengan gayanya yang urakan dan arogan, dan meresahkan masyarakat.
Penolakan safari ceramah ini juga terjadi karena Habib Rizieq sering melakukan hate speech dan menyerang pemerintah, ulama lain, bahkan berani menghina aparat. Apakah tidak malu, seorang keturunan Nabi melakukan hal negatif seperti ini? Betul-betul jauh dari akhlak seorang habib yang artinya ‘kesayangan’, karena bukannya dicintai, ia justru dibenci banyak orang.
Jika Habib Rzeq sadar, maka ia akan beristirahat saja dan melakukan karantina mandiri selama 2 minggu, karena baru pulang dari Arab. Bukannya ngotot bepergian dengan alasan safari ceramah. Karena sudah ada banyak orang yang berdemo, jadi lebih baik dibatalkan saja.
Penolakan pada safari ceramah Habib Rizieq menunjukkan masyarakat Indonesia yang masih ingin bersatu dan cinta damai. Mereka tak mau situasi kondusif ini dikotori oleh ulah Habib Rizieq yang melakukan safari ceramah padahal sebenarnya ia menebar teror dan provokasi dari kota ke kota.
Zakaria,Penulis adalah warganet tinggal di Bogor


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER