Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Waspadai Klaster Covid-19 Saat Libur Panjang

  • 26 Oktober 2020
  • 16:15 WITA
  • Nusantara
  • Dibaca: 1339 Pengunjung
google

Oleh : Aditya Akbar )*

Opini, suaradewata.com - Libur panjang karena ada cuti bersama yang diiringi dengan akhir pekan, mulai 28 oktober 2020, bisa jadi bom waktu yang menyebabkan klaster corona baru. Jika masyarakat memanfaatkannya untuk rekreasi. Saat ini kita masih dalam masa pandemi yang prihatin. Jangan malah jalan-jalan dengan alasan bosan di rumah saja.

Sejak serangan corona di bulan maret 2020, sekolah ditutup dan para murid belajar secara daring. Mereka masih wajib menuntut ilmu dan pelajaran diberikan via WA dan Zoom. Namun banyak orang tua yang mengeluh karena sekeluarga bosan beraktivitas di rumah saja. Oleh karena itu saat ada libur panjang di bulan oktober ini, mereka sangat bahagia.

Mulai tanggal 28 oktober hingga 1 november 2020 ada 5 hari libur, karena cuti bersama dalam rangka maulid Nabi sekaligus libur di hari sabtu dan minggu. Ini kesempatan bagi orang tua untuk istirahat sejenak dari kerepotan schoolathome. Ada pula yang memanfaatkan libur panjang untuk pulang kampung atau mengajak anak travelingke luar kota.

Juru bicara tim satgas covid Dokter Wiku mengingatkan agar masyarakat tidak mudik, pergi ke luar rumah, atau ke tempat kerumunan. Misalnya ke Mall, pantai, atau bumi perkemahan. Para nakes dan ahli epidemiologi juga sudah mewanti-wanti untuk menahan diri dan tidak pergi ke luar kota, atau mengunjungi taman rekreasi pada libur panjang oktober ini.

Dokter Wiku menambahkan, masyarakat boleh pergi keluar rumah jika dalam keadaan mendesak. Misalnya untuk belanja bulanan atau berobat ke klinik. Jika mereka keluar rumah juga harus menuruti protokol kesehatan, seperti pakai masker kain, bawa handsanitizer atau cuci tangan di tempat umum. Juga menjaga jarak minimal 2 meter dari orang lain.

Peringatan dari dokter ini bukan berarti mengekang masyarakat. Karena sejatinya para nakes mengkhawatirkan kesehatan banyak orang. Jika masyarakat mudik dan rekreasi bersama saat libur panjang, dikhawatirkan akan membuat klaster corona baru. Karena mereka berkumpul dan berdesakan saat antri tiket di di stasiun, terminal, atau bandara.

Walau masyarakat beralasan mereka mudik memakai kendaraan pribadi, juga berbahaya. Karena biasanya mobil dipenuhi penumpang  dan gagal jaga jarak. Mereka juga melepas masker saat makan di rest area yang ramai. Sehingga dikahwatirkan tertular corona dari tempat itu. Apalagi menurut penelitian WHO, virus covid-19 bisa menyebar di udara kotor dan pengap.

Jika orang-orang liburan di dalam kota juga masih berbahaya. Karena di dalam Mall atau taman kota ada ratusan orang yang berjalan-jalan sambil melepas penat. Walau mereka memakai masker, tapi gagal menerapkan physicaldistancing. Kita juga tidak tahu mana orang yang berstatus OTG atau tak pakai masker standar, sehingga masih ada resiko tertular corona.

Cobalah untuk menahan diri dan tidak pulang kampung untuk sementara. Jika kangen dengan orang tua di kampung, kita bisa video call, dan mereka juga memahami alasan mengapa di long weekendini tidak mudik. Karena masih masa pandemi. Jangan malah nekat pergi ke kampung, padahal berasal dari zona merah, dan menularkan corona para orang tua tercinta.

Beri pengertian kepada anak-anak mengapa di masa liburan ini mereka tidak diajak berjalan-jalan di Mall atau tempat rekreasi. Berikan wawasan tentang pandemi yang belum berakhir. Mereka akan mengerti alasannya dan memutuskan untuk liburan di rumah saja. Sediakan snackdan DVD film kesukaan mereka untuk mengalihkan perhatian dan mereka merasa nyaman di rumah.

Saat long weekendjangan nekat dan pulang kampung atau liburan bersama anak-anak. Karena di mana-mana pasti ramai dan bisa menyebabkan klaster corona baru. Apalagi jika ada bayi atau balita yang rawan tertular virus covid-19. Lebih baik sekeluarga di rumah saja, karena keadaan di luar belum 100% aman.

 

)* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Masyarakat (LSISI)

 


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER