Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Mewaspadai Provokasi KAMI di Masa Pandemi Covid-19

  • 26 Oktober 2020
  • 16:05 WITA
  • Nusantara
  • Dibaca: 1268 Pengunjung
google

Oleh :Raditya Rahman )*

Opini, suaradewata.com - KAMI selama ini sudah cukup memusingkan masyarakat dengan tingkahnya yang ajaib dan pernyataannya yang kontroversial. Mereka berjanji menyelamatkan Indonesia, tapi kenyataannya hanya mengadakan deklarasi dari kota ke kota. Anehnya, mereka juga mendukung demo buruh padahal saat ini masih masa pandemi.

Saat pertama kali berdeklarasi, para anggota KAMI menyatakan bahwa mereka terbentuk karena punya 1 tujuan yang sama: menyelamatkan Indonesia. Namun kenyataannya terlihat para anggota KAMI memiliki tujuan politis bahkan berani mengajak orang lain untuk makar. Mereka juga tak punya etika karena mengadakan deklarasi saat pandemi, padahal seharusnya masa prihatin.

Deklarasi saat pandemi berbahaya karena bisa membentuk klaster corona baru. Memang banyak yang pakai masker, tapi sayangnya mereka berdesak-desakan sehingga melanggar aturan physicaldistancing. Sayang sekali mengapa acara yang mengundang ratusan orang dan tak menaati protokol kesehatan seperti ini malah mendapat izin keramaian?

Tak puas dengan deklarasi di Jakarta, masih ada deklarasi tambahan di berbagai daerah, seperti Surabaya dan Bandung. Namun sayangnya acara ini ditolak banyak orang karena mereka menganggap KAMI tak punya etika dan ingin memecah-belah bangsa. Pemilik gedung tempat deklarasi juga tak memberi izin karena takut acara ini tak memenuhi protokol kesehatan.

KAMI bukannya evaluasi, namun malah menyalahkan para pendemo yang menolak kehadiran mereka. Menurut KAMI, para pemrotes adalah pendemo bayaran dan mereka kasihan karena mengira pengunjuk rasa butuh uang. Padahal masyarakat yang mendemo bukanlah orang bayaran. Mereka protes terhadap KAMI karena tak ingin kotanya dikotori.

Setelah gagal meraih simpati rakyat di daerah, KAMI berusaha mencari anggota baru dengan merangkul para purnawirawan. Mengingat Presidium mereka, Gatot Nurmantyo, juga seorang purnawirawan. Namun sayangnya cara promosi tersebut kurang etis, karena mengajak mereka untuk mendukung KAMI di taman makam pahlawan.

Untuk apa menodai kesucian TMP dengan promosi KAMI? Peristiwa ini mencengangkan, karena acara ziarah ke makam pahlawan malah dibelokkan jadi ajang perekrutan anggota KAMI kepada para purnawirawan. Padahal anggota-anggota KAMI sudah senior dan berumur, seharusnya mereka malu dan tahu etika, dan tidak promosi sembarangan.

Momen demo buruh juga dimanfaatkan baik-baik oleh anggota KAMI. Mereka mendukung penuh unjuk rasa tersebut dan lupa bahwa saat ini masa pandemi. Sehingga mengadakan long marchsekaligus mogok massal sangat berbahaya. Terbukti saat ada ratusan pendemo yang dites, hasilnya 12 orang positif corona. Di mana KAMI saat para pengunjuk rasa kesakitan?

KAMI juga terbukti men-sharehoax dan provokasi agar main banyak orang yang turun ke jalan saat demo tolak omnibus law. Mengapa malah terlihat sebagai sebuah kesengajaan ketika buruh dibenturkan dengan aparat? Apakah seperti ini kualitas seorang calon pemimpin bangsa? Mengingat mereka berambisi dan punya tujuan untuk jadi RI-1.

Di mana mereka meletakkan etika? Saat pandemi bukannya memenuhi janji untuk menyelamatkan Indonesia, KAMI malah mendorong banyak orang untuk berdemo. Padahal jika benar-benar ingin selamatkan Indonesia, harusnya mengademkan suasana dan mengajak masyarakat untuk tidak berdemo. Namun mereka memprovokasi, tak peduli akan situasinya.

Masyarakat juga makin stressmelhat tingkah laku para anggota KAMI. Selain lupa etika, KAMI terlihat bermuka dua. Terbukti setelah ada anggotanya yang ditangkap karena melanggar UU ITE dan menyebar hoax omnibus law, petingginya langsung memuji UU tersebut. Padahal sebelumnya menentang keras.

Kapankah drama KAMI akan berakhir? Semoga mereka semua sadar dan tidak melupakan etika. Karena bagaimanapun mereka adalah tokoh publik yang selalu disorot oleh media. Jangan malah memanfaatkan popularitas untuk tujuan yang negatif.

)* Penulis aktif dalam Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER