Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Warga Desa Adat Jasri 90 Persen Siap Memenangkan Gede Dana - Artha Dipa

  • 18 Oktober 2020
  • 10:35 WITA
  • Karangasem
  • Dibaca: 1201 Pengunjung
Istimewa

Karangasem,suaradewata.com - Masyarakat Desa Adat Jasri, Kelurahan Subagan, Karangasem menyatakan dukungan penuh untuk memenangkan Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Karangasem dari Nomor Urut 1, I Gede Dana - I Wayan Artha Dipa, Sabtu (17/10) di Wantilan Desa Adat Jasri, Karangasem.

"Kami dari warga Jasri di Kelurahan Subagan sudah mempersatukan diri untuk memilih I Gede Dana dan I Wayan Artha Dipa, semoga tanggal 9 Desember mendatang DANA-DIPA mendapatkan suara 90 persen," demikian kata perwakilan masyarakat, Nyoman Mawi Yudistira dihadapan Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali, Wayan Koster dan Ketua Tim Pemenangan DANA-DINA, IGN Alit Kusuma Kelakan saat kampanye berlangsung.

Lebih lanjut ia menyampaikan permasalahan di wewidangan Desa Adatnya, bahwa wantilan Desa Adat yang diperuntukan untuk aktivitas adat, budaya, dan agama sudah mengalami kerusakan dan belum mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Karangasem.

"Wantilan di Desa Adat Jasri ini sudah berumur 49 tahun, dan kondisinya sudah bocor, untuk itu kami memohon dukungan kepada Gede Dana nantinya ketika sudah dilantik menjadi Bupati Karangasem," ujarnya.

Mendengar hal itu, Gede Dana yang didampingi Artha Dipa menyampaikan rasa terimakasihnya atas dukungan yang diberikan warga Desa Jasri dan Kelurahan Subagan yang telah hadir dengan protokol kesehatan Covid-19. Mengenai pembangunan di Kabupaten Karangasem, Gede Dana yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua DPRD Karangasem mengungkapkan Karangasem yang kita cintai ini selama 4 tahun tidak ada perubahan dan perkembangan, sehingga program pemerintahannya sangat stagnan.

Hal itu dikarenakan oleh tidak adanya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Pemerintah Kabupaten Karangasem sejak 4 tahun terakhir ini, akibat PAD di Kabupaten Karangasem mengalami penurunan sebesar Rp 10 milyar. Sehingga pembangunan yang diimpikan masyarakat tidak bisa terlaksana.

Dalam catatan pengawasannya semasa aktif menjadi Ketua DPRD Karangasem, Gede Dana menguraikan di Kabupaten Karangasem saat ini terdapat jalan rusak sepanjang 240 Km, kemudian ditambah dengan 300 Km jalan di Karangasem mengalami rusak ringan. Permasalahan selanjutnya yang sampai saat ini dikeluhkan masyarakat dan belum diatasi oleh Pemkab Karangasem ialah Jembatan di Subagan yang ambruk.

"Padahal jembatan ini memiliki fungsi yang sangat penting, karena menghubungkan warga di Kelurahan Subagan dengan warga di Banjar Asak, Desa Pertima, Kecamatan Karangasem," cerita Gede Dana seraya mengungkapkan permasalahan dibidang pendidikan ialah banyaknya Sekolah di Karangasem mengalami kebocoran di bagian atapnya, plafonnya jebol, toiletnya rusak, dan ada sekolah yang tidak disengker pekarangannya.

Atas permasalahan ini, Pemerintah Kabupaten Karangasem dinilainya tidak fokus dalam memberikan pelayanan publik kepada masyarakat. Sehingga dengan rasa jenggah yang dimiliki Gede Dana bersama Wayan Artha Dipa, membuat dirinya serius mencalonkan diri sebagai Bupati dan Wakil Bupati Karangasem yang diusung oleh PDI Perjuangan dan Partai Hanura.

Dengan jaringan politik yang dimiliki Gede Dana di Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Pusat, ia menegaskan akan fokus membangun pemerintahan di Karangasem dengan Visi dan Misi 'Nangun Sat Kerthi Loka Bali di Karangasem melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Karangasem Era Baru'.

"Program pertama yang akan saya lakukan ialah mengenjot peningkatan PAD, dan menutup kebocoran pendapatan yang selama ini dibiarkan selama 4 tahun terjadi. Selanjutnya dibidang pendidikan, DANA-DIPA serius ingin mewujudkan Perguruan Tinggi Negeri agar pemuda di Karangasem tidak jauh-jauh menuntut ilmu dan sekaligus dalam rangka membangkitkan sektor ekonomi kerakyatan," gagasnya sambil menegaskan kalau 1000 saja mahasiswa menuntut ilmu di Karangasem, maka dampaknya akan sangat luar biasa untuk perekonomian di masyarakat.

Sementara itu, Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali, Wayan Koster dalam orasi politiknya mengungkapkan kebanggaannya terhadap segala potensi yang ada di Kabupaten Karangasem, namun sangat disayangkan belum terurus dengan optimal selama ini. Seperti halnya di sektor pertanian atau perkebunan, Karangasem memiliki salak yang sangat terkenal namanya, namun hasil produksi salaknya tidak dioptimalkan.

"Sehingga kami akan garap potensi Salak Karangasem ini dengan memproduksinya ke hotel-hotel jika nanti musim panen salak sudah tiba dan masa pandemi Covid19 berakhir. Kemudian untuk program berkelanjutan, saat ini saya sudah panggil ahli dari UNUD agar dikembangkan Centra Salak untuk diolah menjadi juice dan wine," jelas Wayan Koster yang merupakan mantan Anggota DPR-RI 3 Periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini seraya mengungkapkan ijin edar dari produksi wine salak ini sedang diproses di BPOM.

Kemudian nasib para petani arak di Karangasem juga disebutnya sudah bertahun-tahun tidak diperjuangkan. Sehingga dengan naluri kecerdasan yang dimiliki Wayan Koster, ia langsung mencetuskan Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali sebagai wujud keberpihakan nyata pada kearifan lokal kita di Bali dan para petani.

"Sekarang arak ini telah menjadi primadona masyarakat, selain bermanfaat sebagai minuman, namun juga diinovasikan sebagai Usada BARAK 'Balinese Arak' yang mampu meningkatkan imun tubuh manusia ditengah pandemi Covid-19," ujarnya.

Tidak berhenti sampai disana, potensi Karangasem selanjutnya yang belum digarap sebagai sumber pendapatan ekonomi masyarakat ialah kerajinan kain endek yang ada di Desa Seraya. Untuk itu, ia berkeyakinan apabila alam dan masyarakat menghendaki Gede Dana dan Wayan Artha Dipa menang di Pilkada Karangasem pada 9 Desember mendatang, maka potensi-potensi di Karangasem akan serius dikelola sebagai produk unggulan Kabupaten Karangasem, guna mensejahterakan masyarakat di Desa.

"Saya sudah minta ke Gede Dana, ketika menjadi Bupati agar jangan main proyek APBD di Pemerintah. Ketika ada promosi jabatan pegawai, saya juga minta Gede Dana jangan minta bayaran apapun, karena menjadi pemimpin itu harus fokus, lurus dan tulus. Menjadi Bupati itu wajib menjalankan fungsi pemerintahan, fungsi pembangunan, dan programnya berpihak kepada masyarakat," tutur Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini yang disambut tepuk tangan warga Desa  Adat Jasri dan Kelurahan Subagan.

Sebagai penutup, Gede Dana menyampaikan bahwa dirinya mencalonkan diri sebagai Bupati Karangasem dengan menggunakan gagasan dan ide serta jaringan untuk mewujudkan kebangkitan di Kabupaten Karangasem.

"Saya tidak mau mendidik masyarakat pragmatis, karena dampaknya tidak dirasakan oleh masyarakat selama 5 tahun pemerintahan di Kabupaten Karangasem," pungkasnya.awp/nop


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER