Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Budaya Bersih Harus Dimulai Dari Keluarga

  • 27 September 2020
  • 20:10 WITA
  • Badung
  • Dibaca: 1237 Pengunjung
Istimewa

Badung,suaradewata.com - Guna mengantisipasi sampah membludak di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), perlu dilakukan cara untuk menekan volume sampah di TPA. Dalam menekan volume sampah di TPA perlu adanya pemilahan sampah di masing-masing Keluarga. 

Pemilahan sampah di masing-masing keluarga adalah solusi untuk menekan volume sampah di TPA. Pasalnya, bila volume sampah membludak otomatis akan membutuhkan tempat untuk menampung semua sampah yang ada. Untuk itu, pemilahan sampah di dalam keluarga adalah solusi untuk menekan volume sampah yang ada. Selain itu, perlunya budaya bersih dilakukan oleh setiap orang. Sehingga dengan masifnya budaya bersih dilakukan otomatis permasalahan sampah bisa diatasi.

"Budaya bersih itu sangat penting dilakukan di keluarga, sehingga sampah yang ada di masing masing rumah itu harus dipilah, jadi secanggih apapun mesin yang digunakan untuk recycle tanpa pemilahan dini di keluarga itu hasilnya nol," ucap anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Badung, Nyoman Dirga Yusa, Minggu, (27/09/2020). 

Dalam menekan volume sampah tersebut, yang paling pokok itu adalah budaya bersih dan itu harus dimulai dari anak muda dengan masif dari anak TK, PAUD dan sampai perguruan tinggi. Karena Badung adalah bagian dari Bali yang tidak lepas dari pariwisata yang merupakan jendelanya dunia. Dirga Yusa pun menyarankan agar budaya bersih ini dimasukkan ke dalam peraturan/awig-awig Desa Adat, awig-awig Sekaa Teruna bahkan awig-awig PKK agar budaya bersih ini bisa diterapkan.

"Budaya bersih dimulai dari keluarga dan harus dicek bila perlu dibelikan tempat sampah organik dan non organik, bila dimasukan di awig awig dan ketahuan tidak ada pemilahan sampah di keluarga bisa diberikan semacam sepekanlah, kan ini hukuman moral yang ditakuti di Bali," ujarnya.

"Sampah selesaikan didalam keluarga, coba diselesaikan kan bisa dipetakan kalau di Desa punya teba, clearkan disana baru di daerah perumahan, di Pura Pura dan di Balai Banjar, kalau tidak seperti itu, apapun teorinya tidak ada artinya," imbuhnya.

Dirga Yusa mengatakan, jika sampah dikumpulkan didalam tas plastik lalu diangkut keluar dari rumah. Hal itu bukan solusi untuk menyelesaikan permasalahan sampah. Karena berapa lahan yang akan dibutuhkan untuk menimbun sampah, berapa armada yang akan dibutuhkan untuk mengangkut sampah dan berapa tenaga yang akan dibutuhkan untuk mengangkut sampah tersebut. 

"Jadi sampah diselesaikan di rumah, jika tidak diselesaikan di rumah tidak akan menyelesaikan masalah, berapa hektar tanah yang akan diperlukan untuk sampah itu," pungkasnya. 

Apalagi sampah khususnya sampah plastik bisa diolah menjadi produktif menjadi hidroponik/tempat tanaman. Sehingga nanti hasil olahan tersebut bisa dijual dan dalam hal ini Pemerintah harus memberikan perhatian, minimal membeli hasil olahan sampah tersebut.

"Nanti dibeli itu, jika produktif Pemerintah harus membeli itu, dan hasilnya nanti bisa digunakan untuk taman taman yang dikoordinir oleh Dinas Kebersihan dan Pertanaman yang di beli itu," terangnya.ang/nop


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER