Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Waspada Manuver Politik PA 212 Manfaatkan Isu Pancasila

  • 02 September 2020
  • 20:50 WITA
  • Nusantara
  • Dibaca: 1727 Pengunjung
Google

Opini,suaradewata.com - Pancasila sudah fix jadi dasar negara Indonesia. Namun sayangnya ia malah dipolitisasi dan ‘digoreng’ sehingga seolah-olah pemerintah yang sekarang tidak mencintai Pancasila. Isu itu diembuskan di dunia maya dan dimanfaatkan oleh organisasi PA 212. Tujuannya agar menyerang pemerintah yang sekarang.
September adalah bulan yang selalu diingat oleh rakyat Indonesia karena tanggal 30 september terjadi peristiwa G30S PKI yang memilukan. Untuk memperingati peristiwa ini, maka PA 212  yang tergabung dalam aliansi nasional anti komunis, akan menggelar nonton film G30S PKI bersama-sama. Juga membangkitkan memori masyarakat tentang peritiwa ini.
Menurut ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama, Yusuf Muhammad Martak, sebelum nonton bareng ada khataman dan doa bersama. Acara ini dilakukan tidak hanya di Jakarta, tapi di daerah lain. Dengan syarat mematuhi protokol kesehatan, jadi penonton tidak berdesak-desakan.
Sayangnya tempat yang dipilih adalah masjid dan musala. Jika untuk doa bersama, cocok. Namun untuk nonton film bareng, rasanya kurang etis dan merusak kesucian tempat ibadah. Apakah tidak ada tempat lain seperti aula atau gedung pertemuan? Atau jangan-jangan tidak ada dana untuk sewa gedung, jadi nebeng di masjid dan malah mengotorinya dengan kegiatan duniawi.
Rencana ini juga sangat mengejutkan karena film G30S PKI adalah tayangan lawas yang tidak lagi wajib disiarkan di televisi sejak era reformasi. Pasalnya, ada beberapa hal yang dianggap tidak sesuai dengan peristiwa yang sebenarnya. Buat apa menonton film yang oleh beberapa orang dianggap kategori horor karena ada penggambaran kekejian PKI yang berlebihan?
Amoroso Katamsi, salah satu pemeran dalam film G30S PKI menjelaskan bahwa dalam film ini ada unsur muatan politis. Sejarahnya juga tidak dimuat 100%, sehingga masih abu-abu, dan tidak semua peristiwa yang ada di film mengandung kebenaran. Jika film ini ditayangkan lagi maka takutnya akan menyebar hoax ke seluruh masyarakat Indonesia.
Dari rencana nonton bareng ini malah ada indikasi jika PA 212 ingin menyebarkan kepada khayalak ramai bahwa pemerintah yang sekarang wajib diwaspadai dan dianalogikan sebagai PKI model baru. Apalagi mereka menyebut pemerintah tidak berpihak kepada rakyat. Juga menuduh bahwa Pancasila sudah dikhianati. Padahal semuanya salah besar.
Meskipun mereka beralasan bahwa rencana  nonton bareng ini juga dalam rangka menyambut hari kesaktian Pancasila, namun diragukan. Peringatan hari kesaktian Pancasila bisa dilakukan dengan upacara, ajang donasi, atau hal lain. Bukannya menonton film yang terlalu mendramatisir keadaan dan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi tahun 60-an.
Acara makin berbau politis karena penyelenggaranya adalah aliansi nasional anti komunis dan PA 212 yang sejak awal berdiri sudah menempatkan sebagai oposisi dan sering iri kepada pemerintah. PA 212 awalnya didirikan untuk menurunkan Ahok dan Jokowi dianggap sebagai kawan akrabnya. Pemerintah Jokowi jadi dijelekkan terus dan dituduh ini dan itu.
Pemerintah selalu dibilang anti Pancasila dan pro PKI hanya karena presiden berbeda pendapat dengan PA 212. Selain itu, PA 212 merasa malu karena jagoannya selalu kalah sejak pilpres 2014. Jadi untuk menyalurkan kekesalannya, pemerintah yang selalu dihujat dan diberi ebrbagai tuduhan tanpa ada alasan yang jelas.
Masyarakat jangan mau diprovokasi oleh mereka. Jika diajak nonton bareng, tolaklah dengan halus. Jangan pula mau jika diminta menyebarkan flyer acara nobar tersebut, karena sama saja mendukung mereka. 
Kita wajib mewaspadai provokasi PA 212 yang menganggap pemerintah tidak peduli Pancasila. Acara nonton bareng film G30S PKI juga tak usah dihiraukan. Karena film itu tidak sesuai kenyataan dan ketika diputar lagi, malah akan ada provokasi bahwa pemerintah yang sekarang sama seperti yang dulu.
Emil Kurniawan,  Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa cikini 


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER