Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Adaptasi Kebiasaan Baru Pulihkan Sektor Pariwisata

  • 04 Agustus 2020
  • 08:45 WITA
  • Nusantara
  • Dibaca: 1305 Pengunjung
google

Oleh : Puguh Susilo

Opini, suaradewata.com - Sektor pariwisata sempat redup akibat pandemi Covid-19, hal ini karena kebijakan PSBB yang menutup segala kegiatan yang dapat menimbulkan keramaian. Sehingga untuk meminimalisir kemungkinan penularan virus Corona dari cluster tempat wisata, segala aktifitas wisata dihentikan secara total. Namun demikian, pelaku usaha kini mulai dapat bernapas lega karena beberapa tempat pariwisata dapat di buka di fase adaptasi kebiasaan baru (New Normal) dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Kebijakan Pembatasan Skala Berskala Besar (PSBB) guna mencegah Covid-19 mengakibatkan penutupan berbagai tempat ekonomi. Situasi tersebut tentu juga berdampak pada perputaran uang di sektor pariwisata, khususnya penginapan, souvenir hingga penyedia jasa perjalanan. Meski demikian Sosialisasi Kemenparekraf terkait dengan adaptasi kebiasaan baru menjadi angin segar bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata.

            Di tengah pandemi Covid-19, Kemenparekraf kian aktif menyuarakan program Cleanliness, Health and Safety (CHS) yang masuk bagian adaptasi kebiasaan baru (New Normal).

            Salah satunya, program tersebut menyasar pada desa wisata. Kemenparekraf menyebutkan, ada sekitar 20 desa wisata di Kabupaten Magelang yang menjadi percontohan awal lewat program gerakan Bersih, Indah, Sehat, Aman yang disingkat BISA.

            Program ini menyasar sekitar 1400 pelaku dari 20 desa wisata terpilih dari total 52 desa wisata. Masing-masing desa wisata pun mendapat jatah sebanyak 65 orang. Di mana orang-orang yang terpilih akan mendapatkan pelatihan padat karya selama 5 hari.

            Dengan adanya program ini, tentu kita berharap agar sektor perekonomian di sektor pariwisata dapat pulih. CHS tentu patut menjadi bahan edukasi dan sosialisasi agar para wisatawan dapat tetap mematuhi protokol kesehatan.

            Kemenparekraf juga telah membuat video tentang penerapan panduan dan protokol kesehatan yang harus diterapkan di tempat-tempat wisata dan menyosialisasikannya kepada masyarakat lewat berbagai media. Pemerintah melalui kemenparekraf meyakinkan bahwa berwisata di masa adaptasi baru dan pandemi Covid-19 sudah bisa dilakukan dengan aman.

            Kemenparekraf juga sudah menggandeng setiap pemangku kepentingan di industri pariwisata untuk mengikuti panduan dan menerapkan protokol kesehatan demi menjami keamanan wisatawan.

            Saat ini pemerintah juga berfokus dalam menggaet wisatawan domestik daripada menarik kembali turis-turis asing. Hal tersebut berdasarkan pertimbangan pandemi covid-19 yang masih terjadi di seluruh dunia.

            Pada kesempatan berbeda, ketua Satgas Covid-19 DIY Biwara Yuswantana menerangkan pemerintah daerah Yogyakarta telah mempersiapkan berbagai penduan dan protokol kesehatan yang ketat untuk menjalankan aktifitas wisata di tengah pandemi covid-19 dan masa adaptasi kebiasaan baru.

            Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta memastikan pelaku usaha di sektor pariwisata seperti objek wisata, perhotelan dan restoran agar mematuhi protokol kesehatan dengan ketat dan mengikuti panduan yang diberikan.

            Beberapa kebijakan untuk melakukan aktifitas wisata di tengah pandemi yaitu dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat seperti menjaga jarak dan memakai masker, menyiapkan sarana dan prasarana cuci tangan seperti sabun atau hand sanitizer hingga membatasi jumlah pengunjung menjadi 50% dari kapasitas total, serta memberlakukan aturan waktu kunjungan hingga pendataan tiap wisatawan yang berkunjung ke objek wisata.

            Di Jawa Timur, Kebun Binatang Surabaya (KBS) tekah dibuka kembali dengan tetap memperketat protokol kesehatan.

            Kepala Bagian Perekonomian dan Usaha Daerah Kota Surabaya, Jawa Timur Agus Hebi Dujuniantoro di Surabaya mengatakan, sebelum KBS dibuka, rupanya sudah diteliti oleh berbagai pihak mulai dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Perhimpunan SARJANA DAN Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) hingga Dinkes Kota Surabaya.

            Mereka telah memberikan izin untuk membuka KBS dengan beberapa catatan, dimana salah satunya adalah mengurangi kapasitas pengunjung hingga 50%, yang semula 6000 menjadi 3000.

            Selain itu, jajaran manajemen perusahaan daerah taman satwa (PDTS) Kebun Binatang Surabaya juga telah melakukan simulasi mulai dari pendaftaran berbasis daring hingga mekanisme pengunjung sebelum masuk dengan berbagai protokol selama berada di area KBS.

            Pengunjung juga wajib membeli dan melakukan pembayaran tiket via daring. Sehingga saat berada di lokasi, pengunjung tinggal melakukan scan barcode kepada petugas yang berada di depan pintu masuk sebagai bukti sudah melakukan pemesanan dan pembayaran.

            Selain itu, guna menghindari terjadinya kerumunan, pengunjung juga diwajibkan mengikuti alur yang sudah ada. Bahkan saat melihat hewan, pengunjung wajib berdiri pada tanda yang sudah tertera.

            Adaptasi kebiasaan baru ini tentu diharapkan dapat menggerakkan lagi sektor pariwisata yang sebelumnya terdampak pandemi. Meski demikian, protokol kesehatan haruslah tetap dilaksanakan. 

 Penulis aktif dalam Ikatan Mahasiswa Gunung Kidul


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER