Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Waspada Radikalisme di Lingkungan Pendidikan

  • 09 Juli 2020
  • 17:35 WITA
  • Nusantara
  • Dibaca: 1277 Pengunjung
google

Oleh : Zakaria

Opini, suaradewata.com - Radikalisme adalah paham yang berbahaya karena ia mengajak pengikutnya untuk tidak setia pada negara. Cita-cita mereka dalam membentuk negara kekhalifahan membuat munculnya ambisi untuk merekrut kader baru dan menyebarkan ajarannya. Termasuk ke lembaga sekolah. Kita harus waspada agar anak tidak dididik oleh guru yang radikal.

Sekolah adalah lembaga pendidikan yang seharusnya mentransfer ilmu pengetahuan kepada murid-muridnya. Selain itu, di sekolah, anak-anak juga diajari untuk hidup disiplin dan menghormati guru. Sayangnya paham radikalisme mulai masuk ke lingkungan pendidikan. Ada sekolah yang ternyata didirikan oleh kaum radikal atau gurunya termasuk simpatisan mereka.

Radikalisme di sekolah ini tentu berbahaya karena murid diajarkan untuk jadi orang yang tidak toleran dan menganggap kelompoknya selalu benar. Bahkan mereka diajak untuk berjihad karena guru menuturkan tentang ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah. Murid-murid merasa terpanggil jiwanya lalu berani jadi pengantin bom, sehingga mati sia-sia.

Irfan Amalee, direktur Peace Generation menyatakan bahwa paham radikalisme didoktrin melalui berbagai cara. Kaum radikal memang sengaja mengadakan doktrinisasi dengan aneka usaha agar muncul kader-kader baru, termasuk murid sekolah. Di lembaga pendidikan yang didirikan oleh kaum radikal, diajarkan tentang cara meraih surga melalui kekerasan.

Selain itu, guru juga mengajarkan bahwa dalam sejarahnya, ulama ikut dalam perjuangan kemerdekaan. Namun ketika Indonesia merdeka, mereka kecewa karena negara memiliki azas pancasila, bukan kekhalifahan. Sang guru pun memberikan keterangan tentang kelebihan dari negara khalifah dan memaki rezim sekarang yang menurut mereka tidak adil.

Kondisi ini tentu mengkhawatirkan karena murid yang masih berusia muda malah diarahkan untuk berjihad dan ikut membenci pemerintah. Padahal seharusnya mereka belajar tentang matematika, sains, dan pengetahuan lain. Namun malah diajarkan tentang kebencian dan intoleranisme, serta anti terhadap kaum asing yang dianggap sebagai penjajah.

Sebagai orang tua, kita wajib waspada dan teliti dalam memilihkan sekolah, terutama yang berbasis agama. Misalnya madrasah atau pesantren. Lihat dulu sejarah lembaga pendidikan tersebut dan teliti siapa pendirinya, siapa kepala sekolahnya? Apakah mereka mengajarkan tentang nasionalisme atau malah ternyata simpatisan kaum radikal?

Jangan sampai salah pilih karena nanti anak bisa tumbuh jadi orang yang kehilangan rasa nasionalisme. Mereka juga berubah dan ingin pergi berperang di daerah rawan konflik, seperti Suriah. Juga lebih menuruti ucapan guru daripada orang tua.

Mengapa sampai seperti itu? Karena mereka memang sudah didoktrin untuk jadi kaum radikal. Bagi mereka, pergi berperang itu adalah jihad, dan ajaran dari sekolah sudah terlalu mengakar. Sebelum semuanya terlambat, kita harus waspada dan teliti dalam memilih lembaga pendidikan untuk anak-anak.

Jika anak sudah terlanjur masuk ke lembaga pendidikan milik kaum radikal dan Anda baru mengetahuinya beberapa bulan kemudian, segera pindahkan ke sekolah lain. Memang nantinya butuh biaya lagi, namun hal itu lebih baik. Daripada nanti mereka terlanjur terdoktrin dan malah berani melawan orang tuanya.

Di rumah, ajarkan kembali mereka untuk menaikkan rasa nasionalisme. Misalnya dengan menyetelkan lagu kebangsaan dan mengajak untuk menonton film tentang sejarah Indonesia. Lama-lama doktrin dari lembaga pendidikan radikal akan terkikis dan ia sadar bahwa Indonesia tediri dari banyak suku dan agama, dan ia tidak boleh membenarkan kelompoknya sendiri.

Radikalisme di lembaga pendidikan sangat membuat kita miris karena bisa merusak masa depan anak-anak. Bukannya ingin mencari beasiswa kuliah, mereka malah bercita-cita berangkat jihad dan tak lagi menuruti orang tuanya. Waspadalah karena kedok kaum radikal makin banyak dan mereka juga membuat sekolah untuk menebarkan ajarannya.

 

Penulis adalah warganet, tinggal di Bogor


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER