Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Dua Pengedar Asal Tabanan Lintas Provinsi Dihukum Berfariasi

  • 09 Juli 2020
  • 13:15 WITA
  • Denpasar
  • Dibaca: 1320 Pengunjung
suaradewata

Denpasar, suaradewata.com - Oder ribuan ekstasi dari Pontianak, dua warga lokal Bali asal Tabanan, masing-masing I Gede Komang Darma Astika (34), dan I Nyoman Nata alias Koming Klaci (54) dihukum berfariasi.

Putusan yang dibacakan melalui telekonferens ini dibacakan oleh hakim IGN Putra Atmaja,SH.MH., Kamis (9/7) dari PN Denpasar. "Menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 15 tahun terhadap terdakwa Astika dan terdakwa 2 Nyoman Nata selama 17 tahun serta masing-masing didenda sebesar Rp.1 miliar yang dapat digantikan dengan pidana penjara selama tiga bulan," putus Hakim secara virtual.

Majelis Hakim menilai perbuatan kedua terdakwa telah melawan hukum sebagaimana tertuang dalam Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Dengan barang bukti narkotika berupa ekstasi sebanyak 5.977 butir.

Terhadap putusan Hakim, Jaksa I Made Lovi Pusnawan,SH selaku penuntut umum dari Kejari Denpasar yang sebelumnya menuntut keduanya selama 18 tahun penjara, menyatakan pikir-pikir. Begitu juga dengan kedua terdakwa yang didampingi kuasa hukumnya menyatakan pikir-pikir.

Untuk diketahui, kedua terdakwa saat ditangkap pada 24 Oktober 2019 lalu, petugas berhasil mengamankan 5.977 butir pil ekstasi warna merah. Barang terlarang sebanyak itu didapat oleh dengan cara dikirim dari Pontianak melalui jasa pengiriman barang JNE.

Terdakwa Astika yang berasal dari Desa Buahan, Kecamatan Marga, dan Nata berasal dari Desa Kelaci, Kecamatan Marga, Tabanan ini menyebut pengiriman paket JNE tersebut dengan Nomor resi 160060009370019 an. Bpk Nyoman Artana Jl Anggrek Sari Gang 3 No.18, Denpasar dengan pengirimin an. Ny Susanti Lim jl Hijas No.110 PTK. 

Diketahui, kedua terdakwa ini sudah sering berkerjasama dalam bisnis peredaran Narkotika lintas provinsi ini. Di mana, Astika sebagai kurir yang bertugas mengambil paket di JNE dan menyerahkan ke orang lain sesuai perintah dari Nata. 

Untuk tugas ini, Astika mendapat upah sebesar Rp 3,5 juta yang diterima secara tunai dari Nata. "Setiap kali selesai mengambil paket di JNE, Astika diminta oleh Nata untuk menyerahkan paket berisi ekstasi ke orang lain di pinggir jalan daerah Mengwi, Badung," beber Jaksa Lovi dalam dakwaannya. 

Singkat cerita, pada tanggal 24 Oktober 2019 sekitar pukul 15.30 Wita Astika mendatangi gudang JNE yang terletak di Jalan Danau Poso No. 1A Denpasar untuk mengambil paket. Petugas yang telah memantau sejak awal sejak melewati ruang X-Ray kargo Bandara Internasional Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Langsunh melakukan control delievery (penyerahan di bawah pengawasan) ke Bali. 

Hingga kemudian, petugas berhasil mengamankan Astika dan paket tersebut di parkiran Gudang JNE di Jalan Danau Poso sekitar pukul 16.00 Wita. Dilanjutkan dengan manangkap Nata di Jalan Rajawali, Desa Dauh Peken, Tabanan sekitar pukul 22.30 Wita.mot/utm


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER