Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Gus Adi Sering Alami Intervensi, FAB : HAM Tidak Boleh Diabaikan

  • 04 Juli 2020
  • 19:50 WITA
  • Buleleng
  • Dibaca: 1271 Pengunjung
istimewa

Buleleng, suaradewata.com - Selama menjalani masa penahanan di rutan Mapolres Buleleng, Gusti Putu Adi Kusuma Jaya akrab disapa Gus Adi atas dugaan kasus ujaran kebencian, konon kerap mengalami intervensi dari pihak kepolisian. Melihat kondisi itu, Forum Advokat Buleleng (FAB) yang menjadi tim Kuasa Hukum Gus Adi meminta, pihak kepolisian bertindak profesional dengan tidak mengabaikan Hak Asasi Manusia (HAM).

Hal ini disampaikan langsung salah satu tim Kuasa Hukum Gus Adi, I Made Suwinaya. Sesungguhnya Suwinaya yakin jika Polres Buleleng bisa untuk bekerja secara profesional. "Seseorang ditahan dalam suatu masalah hukum, belum berarti dia bersalah dan HAM tidak boleh diabaikan," kata Suwinaya, Sabtu (4/7/2020) ketika dikonfirmasi awak media terkait penerapan hukum dalam penahanan Gus Adi di Polres Buleleng.

Berdasarkan KUHAP, lanjut Suwinaya, ada empat alasan kenapa seseorang harus menjalani penahanan. Pertama untuk mempermudah penyidikan. Kedua agar tidak menghilangkan barang bukti. Ketiga supaya tidak mengulangi tindak pidana yang sama. Dan terakhir supaya tidak melarikan diri. Sehingga, tidak ada satu alasan hukum yang menyebutkan, penahanan dilakukan karena seseorang bersalah.

"Hanya hakim yang berhak menyatakan seseorang itu bersalah atau tidak. Itu harus melewati suatu peradilan yang ketentuan pelaksanaannya diatur dalam perundang-undangan. Ini seolah-olah terjadi penghukuman terhadap Gus Adi, sementara belum ada keputusan dari hakim dipersidangan," kata Suwinaya.

Seharusnya sesama penegak hukum, menurut Suwinaya, harus bisa saling menyadari pentingnya komitmen dalam melaksanakan penegakan hukum. Bahkan, kliennya sejak awal ditangkap menunjukan sikap tanggungjawab dan menghargai penegakan hukum, atas video yang tidak sengaja diunggahnya ke media sosial tersebut.

"Gus Adi dijemput puluhan polisi dan dia nyetir mobil sendiri ke Polres Buleleng. Beberapa saksi mendengar bahwa Gus Adi meminta ada anggota Polres untuk berada di dalam mobilnya selama dari rumah menuju Polres Buleleng. Itu kan ada itikad baik dan menghormati proses hukum. Seharusnya Polres Buleleng wajib menghormati itu," ucap Suwinaya.

Yang disesalkan adalah, Gus Adi sempat dirantai pada kedua tangan serta kakinya oleh penyidik kepolisian. Foto pemborgolan kaki dan tangan tersebut kemudian disebarluaskan melalui jejaring sosial maupun ke sejumlah awak media. Sehingga dianggap ini merupakan pelanggaran HAM. "Klien kami telah melaporkan ke Presiden RI dan sejumlah kementrian dan lembaga negara," ungkap Suwinaya.

Bukan itu saja, kerusakan fasilitas umum seperti MCK hingga sarana lain yang ditetapkan oleh aturan perundang-undangan mengenai Rumah Tahanan Negara (Rutan), juga turut dilanggar Polres Buleleng. Polisi diharapkan bisa mengedepankan azas presumtion of innocence (Praduga tak bersalah). Dan ini diatur dalam KUHAP hingga Peraturan di Internal Kepolisian melalui Peraturan Kapolri No 4 Tahun 2015.

"Ini bukan jaman penjajahan. Indonesia sudah meratifikasi hukum internasional yang dijadikan sebagai hukum berlaku di Indonesia. Harusnya tidak ada lagi pelanggaran-pelanggaran hak azasi terhadap seseorang yang berstatus sebagai tahanan sekalipun. Mereka itu manusia, bukan binatang," ujar Suwinaya yang menyoroti penegakan HAM di Polres Buleleng.

Dari pengakuan Gus Adi, sambung kata Suwinaya, sejumlah perlakuan tidak pantas kerap kali dirasakan oleh para tahanan. Doktrin sebagai orang bersalah hingga beberapa kali diberikan makanan basi serta berbau masih terjadi terhadap para tahanan. Bahkan, dari pengaduan Gus Adi kepada tim advokasinya, usai sidang terakhir pada 2 Juli 2020 sekitar pukul 20.00 wita sempat ada keributan.

Keributan itu terjadi didalam sel antara Gus Adi dengan seorang oknum petugas berpakaian preman pada piket malam yang disaksikan anggota provost yang ikut mengucapkan hal yang tidak pantas kepada seorang tahanan. "Klien kami kebetulan tidak pakai masker karena dikembalikan untuk dicuci. Oknum itu naik ke kursi dan membentak dan menghina dengan menyebut botak klien kami. Ini permasalahan attitude dan moral oknum petugas," beber Suwinaya.

Apa yang terjadi di Polres Buleleng dan diungkap Gus Adi menjadi wujud nyata tentang kinerja kepolisian khususnya yang terjadi di daerah. "Jangan seperti rumor yang berkembang dimasyarakat bahwa penegakan hukum layaknya pisau yang tajam ke bawah tapi tumpul diatas. Saya yakin, Polri pasti mampu melakukan pembenahan didalam institusinya," jelas Suwinaya.

Terkait langkah hukum yang diambil terhadap sejumlah pelanggaran itu, Suwinaya mengaku hal itu tergantung keinginan dari Gus Adi sendiri. Dirinya mengakui, pelanggaran penerapan hukum terhadap penahanan seharusnya melalui langkah gugatan baik itu Praperadilan dan pernah diusulkan diawal.

"Klien kami hanya berpesan untuk tidak melakukan gugatan terkait situasi negara juga yang dalam situasi krisis. Tapi, kesadaran yang diharapkan muncul sehingga Polri semakin baik kedepannya dan diterima masyarakat. Polri harus bersih dari oknum yang tidak mampu humanis," pungkas Suwinaya mengutip yang disampaikan oleh Gus Adi.

Terkait perilaku yang diungkapkam Gus Adi melalui kuasa hukumnya tersebut, Kapolres Buleleng, AKBP Made Sinar Subawa masih belum bisa berhasil dikonfirmasi. rik/nop


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER