Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Tipu Bos Kapal Benoa, Pria Surabaya ini Dihukum 22 bulan

  • 04 Juni 2020
  • 13:15 WITA
  • Denpasar
  • Dibaca: 1392 Pengunjung
suaradewata

Denpasar, suaradewata.com - Dua kali menipu seorang bos kapal di Benoa, membuatnya harus terjerat hukuman selama 1 tahun 10 bulan atau 22 bulan penjara.

Putusan yang dibacakan Hakim Dewa Budi Wadsara,SH,MH dalam sidang virtual di PN Denpasar, justru membuat terdakwa Yoyok Prastiyo (40) melakukan upaya banding.

Padahal, majelis hakim sudah memberikan keringanan hukuman dari tuntutan Jaksa Cok Intan Dewie,SH dari Kejari Denpasar yang sebelumnya mengajukan pidana penjara selama 2 tahun.

Pertimbangan hakim, terdakwa pernah dipenjara dalam kasus yang sama dan korban yang ditipun sama. "Mengadili terdakwa bersalah telah melawan hukum sebagaimana tertuang dalam pasal 378 KUHP. Menjatuhkan hukuman pidana penjara selama satu tahun sepuluh bulan," putus hakim.

Menariknya, korbannya yang pernah ditipu ratusan juta dan menjebloskannya ke Lapas Kerobokan justru kembali tertipu oleh pria ini. Kali ini soal pembelian jenis mesin kapal merk Nissan RH 10 seharga Rp.280 juta.  

"Padahal korbannya pernah ditipu oleh terdakwa dan langsung dijebloskan ke penjara. Sekarang kembali menipu korban yang sama," ungkap Jaksa Cok dalam dakwaan.

Diuraikannya bahwa saksi korban Anny masih berbelas kasi untuk mau menerima terdakwa kembali sebagai karyawannya di PT Global Tuna, di Pelabuhan Benoa.

Sekitar bulan April tahun 2017, korban bermaksud untuk membeli mesin kapal merk Nissan RH 10. Oleh terdakwa ditawarkan mesin bekas dengan kondisi 80% seharga Rp.238 juta, saksi korbanpun mensetujui.

"Awal terdakwa meminta untuk dibayarkan uang muka agar mesin tersebut tidak keburu diambil orang lain. Saksi korban Pada awal mentrasfer uang sebesar Rp.50 juta ke rekening terdakwa," beber Jaksa dalam dakwaannya.

Proses pemberian uang dilakukan dari bulan April hingga pertengahan bulan Oktober 2017. Dimana total uang yang telah diberikan kepada terdakwa Rp.138 juta. Terinci dari jumlah tersebut, hanya Rp.25 juta diberikan secara tunai kepada terdakwa pada 31 Oktober 2017 dan selebihnya diberikan melalui transfer ke rekening terdakwa.

Namun sampai waktu yang dijanjikan oleh terdakwa setelah uang dilunasi, justru mesin kapal yang datang bukan tipe sesuai perjanjian. Terdakwa memberikan mesin kapal merk Nissan tipe RH8 bukan tipe RH 10.

"Terdakwa mengaku menggantikannya dengan membeli baru tipe RH8 seharga Rp.110 juta, tanpa sepengetahuan dari saksi korban. Sementara sisa uang digunakan oleh terdakwa untuk kepentingan pribadi," ungkap Jaksa Cok. mot/sar


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER