Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Penanganan Covid-19 Terganggu Hoax

  • 02 Mei 2020
  • 10:00 WITA
  • Nusantara
  • Dibaca: 1275 Pengunjung
google

Opini,suaradewata.com - Hoax seputar Covid-19 terindikasi masih termonitor di masyarakat, khususnya melalui media sosial. Masih adanya penyebaran kabar bohong ini tidak saja membahayakan masyakat, namun juga menurunkan kepercayaan terhadap Pemerintah sehingga menghambat penanganan Covid-19.

Corona adalah penyakit yang sampai sekarang belum ada vaksinnya. Penyakit ini membuat orang-orang jadi super waspada, karena mereka tentu tidak ingin tertular virus Covid-19. Karena belum ada vaksinnya, mereka jadi rajin mencari informasi bagaimana cara menangkal penyakit ini, dan obat apa yang bisa menyembuhkannya.

Saat ini, sumber informasi paling mudah adalah dari artikel di internet, grup WA, dan media sosial. Sayangnya tidak semua berita itu benar. Malah ada lebih dari 40 buah hoax tentang corona yang sudah tersebar dan meresahkan masyarakat. Mereka memakan hoax itu mentah-mentah, karena sudah terlanjur panik dan terlalu percaya pada informasi yang ada di internet, padahal tidak semuanya valid.

Salah satu hoax yang beredar tenang corona adalah bawang putih yang bisa jadi obat dari virus Covid-19. Akhirnya masyarakat berbondong-bondong memborong bawang putih di pasar, padahal harganya sedang naik, bisa mencapai 50.000 rupiah per kilogram. Kapsul bawang putih di apotek juga jadi laris manis.

Memang bawang putih bisa meningkatkan imunitas dan ketika tubuh sehat, otomatis bisa terhindar dari penyakit. Namun ia bukanlah obat herbal penyembuh Covid-19. Jika terlalu banyak mengkonsumsi bawang putih maka akan menimbulkan efek samping berupa mual dan mulas, apalagi jika Anda minum dalam keadaan perut kosong.

Nikotin juga diyakini jadi obat Covid-19. Hal ini disambut bahagia oleh para perokok, karena mereka tidak lagi dipaksa untuk berhenti. Padahal ini berita hoax dan belum jelas kebenarannya, karena belum ada penelitian yang valid. Terlalu banyak konsumsi nikotin malah bisa membuat Anda sesak napas dan kebanyakan pasien yang terjangkit virus Covid-19 sudah memiliki penyakit bawaan di paru-paru, seperti asma. Jadi jangan malah memaksakan diri untuk belajar merokok hanya karena berita hoax, karena nikotin malah akan membuat corona menyerang tubuh dengan mudah.

Berita hoax lain tentang Covid-19 adalah adanya lockdown di Indonesia termasuk di kota-kota besar seperti Jakarta. Bahkan jalan tol juga dijaga ketat oleh pihak berwajib. Padahal presiden tidak pernah menerapkan lockdown di negeri ini. Lalu, ruas jalan besar memang lebih sering dijaga oleh polisi dan mereka juga mencegah pemudik untuk pulang kampung. Namun masih ada kendaraan yang diperbolehkan melewati tol, misalnya truk yang mengangkut sembako dan solar.

Banyaknya hoax yang beredar memang meresahkan masyarakat dan mereka jadi waswas ketika akan keluar rumah jika ingin berbelanja sembako. Namun Anda tidak boleh panik. Jika ada berita yang tersebar di grup WA, jangan langsung dilanjutkan ke grup lainnya. Periksa dulu kebenarannya. Sudah ada situs untuk memeriksa apakah suatu berita itu benar atau hoax.

Polisi juga sudah meringkus komplotan pembuat berita hoax. Setidaknya, sudah ada 12 orang yang dipenjara karena perbuatan mereka yang meresahkan masyarakat. Pembuat hoax itu melanggar Undang-Undang tentang ITE  pasal 28, 32, dan 35 nomor 11. Hukumannya adalah kurungan 10 tahun. Sedihnya, mereka membuat hoax itu berdasarkan keisengan belaka. Jadi jangan sampai mengikuti jejak mereka dan malah terjeblos ke dalam bui. Ingatlah, jarimu harimaumu di media sosial, jangan menyebar hoax apalagi membuatnya.

Hoax sangat meresahkan masyarakat apalagi jika hoaxnya mengenai virus Covid-19. Setelaha da hoax tentang lockdown, lalu ada pula berit palsu tentang obat corona yang terbuat dari bawang putih atau nikotin. Jangan menelan suatu broadast di grup WA mentah-mentah, namun cek dulu di situs yang terpercaya. Ingatlah bahwa tidak semua hal yang ada di internet itu benar, dan jangan resah akibat hoax yang beredar.

Abdul Kaffa, Penulis adalah Mahasiswa IAIN Kendari


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER