Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Ingin Fogging Swadaya, Cairan Insektisida Gratis dan Mesin Penyemprotan Bisa Dipinjam

  • 05 April 2020
  • 21:35 WITA
  • Badung
  • Dibaca: 1450 Pengunjung
suaradewata

Badung, suaradewata.com - Meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Badung, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, dr. Nyoman Gunarta menghimbau masyarakat agar selalu menjaga kebersihan lingkungan. Terutama selalu mengupayakan langkah 3 M, yakni Menguras, Menutup dan Mengubur guna mencegah DBD.

Meningkatnya kasus DBD itu sendiri disebabkan karena multifaktor, seperti faktor alam siklus tahunan dan curah hujan yang tinggi. 

"Itu yang sangat mempengaruhi tingginya kasus, pada suatu kasus kesehatan pasti disebabkan karena multifaktor," ucap dr. Gunarta, Minggu, (05/04/2020).

Bila di lingkungan kita ditemukan adanya DBD, maka kepala lingkungan yang bersurat menelpon kita. Untuk penanggulangannya tentu kita harus turun ke lapangan melihat seperti apa kondisi di lingkungan di tempat penderita DBDvl tersebut.

"Tindak lanjut apa yang kita perlukan nanti, apakah perlu fogging terpokus, apakah perlu pengurasan atau bagaimana itu nanti tindak lanjutnya yang berbeda beda, kalau fogging terfokus dengan areal 100 meter ke sekeliling tempat penderita DB tersebut," terangnya. 

Selian itu, bila masyarakat ingin melakukan fogging swadaya, Dinas Kesehatan Kabupaten Badung sudah menyiapkan cairan insektisida secara gratis dan mesin penyemprotan masyarakat Desa bisa meminjamkannya. 

"Ya gratis untuk masyarakat, jadi masyarakat hanya menyediakan tenaga dan solar bahan bakar mesin penyemprotan, cairan insektisidanya gratis dan mesin foggingnya bisa dipinjam oleh masyarakat desa," ujarnya. 

Ditanya, dengan meningkatnya kasus DBD di Badung apakah petugas Jumantik tidak bekerja secara efektif? dr. Gunarta menjawab penyebabnya multifaktor dan bukan karena satu faktor saja.

"Jadi kalau temen temen ingin menganalisa, lihatnya dari banyak segi, mungkin saja kalau tidak ada Jumantik kasusnya bisa lebih tinggi lagi karena tidak terkontrol di rumah rumah," jawabnya.

Apakah itu berhasil 100 persen atau tidak, ini yang perlu kita lakukan pengkajian terus-menerus. Tapi minimal itu sudah memberikan dampak kepada keberhasilan penanggulangan DBD.

"Masalah sempurna atau tidak sempurna pasti kita akui tidak ada yang sempurna, itu lah menjadi kajian nanti, faktor apa sih yang menyebabnya sehingga sampai tinggi sekali," tegasnya.

Kita berharap mereka kreatif dalam artian dengan kondisi sekarang dengan adanya Social Distance sebisa mungkin mereka berkunjung dari rumah ke rumah sehingga tidak potensial membawa penyakit. Kita minta kepada mereka kreatif melatih satu orang juru pemantau jentik mandiri di masing-masing rumah dari keluarga mereka tersebut. Dan nantinya mereka bisa berkomunikasi dengan salah satu yang ditugaskan dirumah untuk mengawasi itu. Bagaimana perkembangan dari pada kebersihan lingkungan ada-tidaknya jentik di masing-masing rumah.

"Karena untuk DBD itu tidak bisa ngomong penyemprotannya tidak bagus, oh ini Jumantik tidak bekerja baik karena ini multifaktorial, terus tidak hanya tergantung pada tenaga kesehatan juga sangat tergantung pada bagaimana masyarakat bisa menjaga kebersihan lingkungan nya dengan baik," pungkasnya.ang/nop


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER