Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Desa Makin Aktif  Minta Pembinaan Penciptaan Lingkungan Bersih dan Sehat

  • 08 Maret 2020
  • 21:30 WITA
  • Gianyar
  • Dibaca: 1340 Pengunjung
istimewa

Gianyar, suaradewata.com - Semangat masyarakat dan prajuru desa di Gianyar kini makin intensif dalam penanganan kebersihan lingkungan. Hal itu ditandai makin banyaknya desa yang mohon bantuan pembinaan dan sosialisasi pengelolaan sampah di desa masing-masing. Seperti yang dilakukan Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, melalui Perbekel Keramas I Gusti Putu Sarjana dan jajaran desa dinas dan adat, menggelar Sosialisasi Hidup Bersih Sehat dan Lingkungan Bersih Sehat di Wantilan Banjar Lebah, Desa Keramas, Sabtu (7/3/2020) malam.

Sosialisasi ini menyasar ratusan anggota PKK Banjar Lebah, Desa Keramas, Komunitas Trash Hero Desa Keramas, dan anggota STT setempat. Hadir Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Gianyar Drs  Wayan Kujus Pawitra SSos MAP, Tim Pembina Lingkungan bersih dan Sehat dari DLH, Bendesa I Nyoman Puja Waisnawa, unsur BPD, dan prajuru adat.

Perbekel I Gusti Putu Sarjana menyampaikan dirinya sangat membutuhkan pembinaan melalui sosialisasi ini, karena mau tidak mau sampah di desanya harus dikelola secara serius. Sebab seiring dengan peningkatan aktivitas sosial ekonomi masyarakat, telah berdampak langsung pada peningkatan volume sampah. Produksi sampah di Desa Keramas sekitar 7 ton per hari. Volume sampah ini menjadi lima kali lipat saat hari raya, piodalan pura, dan sejenisnya.  Akibatnya, petugas pemungut sampah kewalahan saat memungut sampah. Jika satu petugas hanya bisa mungut angkut sampah untuk 20 rumah. Karena hari raya maka pasti volume sampah 20 kali lipat lima. Oleh karena itu, pihaknya kini terus membina masyarakat desa agar tak selalu berpikir tentang membuang sampah. "Harapan kami sampah agar dikelola, terutama yang organiik untuk pengkomposan,’’ jelasnya.

I Gusti Putu Sarjana sangat berharap kepada anggota PKK di banjar – banjar dalam intensifikasi mengelola sampah. Karena ibu-ibu adalah warga terdepan dalam mengendalikan sampah dari rumah tangga. Dia mohon ibu-ibu agar bersabar jika petugas pengangkutan sampah agak terlambat datang. Jika tenaga pemungut sampah belum datang, simpan dulu sampahnya sementara di rumah agar sampah tak berserakan.

Sarjana mengaku kini intens menjajaki para pengusaha di Desa Keramas untuk berpartisipasi langsung dalam penciptaan lingkungan sehat khususnya pengelolaan kebersihan desa.

Plt Kepala DLH Gianyar Wayan Kujus Pawitra mengatakan Pemkab Gianyar melalui DLH tim pembinaan ligkungan bersih dan sehat untuk terus membina dan menginovasi masyarakat agar berperan lebih intensif dalam penanganan sampah. Menurutnya, perilaku hidup bersih melalui pengelolaan sampah adalah keharusan. Sedangkan kesadaran masyarakat dalam menangani sampah secara baik dan benar adalah berkah. "Berkahnya yaitu lingkungan bersih dan indah yang berdampak pada kesehatan lahir dan batin,’’ jelasnya.

Kujus sangat berharap penciptaan lingkungan bersih dan sehat dimulai dari kaum perempuan atau krama istri. Karena ibu-ibu adalah pengendali pertama dalam lingkungan keluarga. Karena perempuan,  apalagi nak luh Bali, sangat intens bergulat dengan sampah. Mulai dari pergi ke pasar, memasak, nanding banten (menata bahan upakara), sembahyang, nyurud, dan lain-lainnya.

Sekwan DPRD Gianyar ini mengungkapkan, pengendalian sampah sangat penting dengan pendekatan kearifan lokal masyarakat zaman dulu. ‘’Dulu, ibu-ibu jika ke pasar membeli barang dagangan memakai penarak (bakul), keranjang, dan sejenisnya. Makanan atau bahan makanan dibungkus daun-daunan dan kertas. Kini, ibu-ibu jika ke pasar, pulangnya bawa tas kresek atau bahan-bahan lain non organik. Ini tentu amat bahaya buat kita kini dan anak cucu  kedepan," ujar pejabat asal Banjar Kesian, Desa Lebih, Gianyar ini.

Oleh karena itu, Kujus Pawitra mengingatkan krama istri yang hadir dalam acara itu diminta kembali seperti zaman dulu, ke pasar bawa penarak. Atau setidaknya gunakan bawa tas ramah lingkungan dari rumah, Tak masalah terlihat kuno dan dibilang katrok. Tapi perubahan perilaku budaya ini demi kesehatan hari ini dan kelak untuk anak cucu. Utamakan perilaku ramah lingkungan dengan dimulai dari mengubah sikap mental. "Ingat, seorang perempuan dikatakan luh luwih apabila cakap dalam menjaga kebersihan.
Dalam sosialisasi tersebut juga dibagikan tas ramah lingkungan sebanyak 21.000  dari CSR sponsorship perusahan yang ada di Desa Keramas. rls/gus/nop


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER