Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Tingkat Inflasi di Buleleng Masih Aman Hingga Jelang Akhir Tahun

  • 28 November 2019
  • 00:00 WITA
  • Buleleng
  • Dibaca: 1280 Pengunjung
istimewa

Buleleng, suaradewata.com - Jelang akhir tahun 2019, tingkat inflasi di Buleleng diproyeksikan masih berada di garis aman atau masih terkendali. Itu dibuktikan dengan angka inflasi sebesar 1,92 persen yang masih di bawah target yang ditentukan yaitu 3,5 persen. Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Buleleng, Nyoman Sutjidra, saat ditemui usai memimpin High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Buleleng, Kamis (28/11/2019) di ruang rapat Lobi Kantor Bupati Buleleng.

Wabup Sutjidra mengatakan, angka sebesar 1,92 persen masih di bawah target yang ditentukan yaitu 3,5 persen. Tingkat inflasi di Buleleng khususnya di Kota Singaraja diproyeksikan mencapai dua persen sampai dengan akhir tahun. "TPID dan stakeholder diharapkan bisa menjaga tren positif ini. Angka 2 persen bisa terjadi jika tidak ada gejolak yang sangat berarti," kara Sutjidra.

Sektor pertanian masih menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi tingkat inflasi. Produk-produk pertanian seperti cabai rawit, bawang merah, bawang putih, dan juga beras. Khusus pada HLM ini didiskusikan terkait dengan pola penanganan tingkat inflasi yang terjadi. "Distribusi hasil pertanian dan mengantisipasi inflasi di Hari Raya Hindu. Harus melibatkan PD Pasar," jelas Sutjidra.

Sementara Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Rizki Ernadi Wimanda menegaskan, Bank Indonesia sendiri telah menggelontorkan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) di Buleleng untuk peningkatan produksi bawang merah dan bawang putih. Ini dilakukan untuk meredam laju tingkat inflasi yang mana banyak disebabkan oleh kenaikan harga komoditi tersebut.

"Disini BI tidak dalam kapasitas memberiKAN subsidi langsung atau khusus tapi memberikan pendampingan bagaimana cara mengolah produk pertanian agar produksinya meningkat. Jadi, subsidi khusus seperti kredit lunak tidak ada. Seandainya petani perlu alat-alat produksi bisa melalui PSBI yang sudah dijalankan," tandas Rizki Ernadi Wimanda. rik/nop


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER