Media Berita Online Bali Terkini, Kabar Terbaru Bali - Beritabali.com

Kita bersaudara Karena Papua

  • 11 April 2015
  • 00:00 WITA
  • Nusantara
  • Dibaca: 3035 Pengunjung

Opini, suaradewata.com - Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan kerangka utama yang mendasari pembentukan bangsa dan negara Republik Indonesia. Negara kesatuan tersebut terbentuk dari keberagaman budaya dan bahasa yang tersebar dari sabang sampai marauke. Maka sudah selayaknya setiap unsur masyarakat Indonesaia berkumpul dan bersatu demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang telah menyatukan diri dalam bingkai NKRI.

Peningkatan kesejahteraan tersebut tentu harus dilakukan tanpa pandang ‘bulu”, suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Hal ini disebabkan karena setiap warga negara Indonesia memiliki hak yang sama, hak dalam bidang ekonomi, politik, sosial budaya, pertahanan dan keamanan. Hak-hak tersebut pun telah dijamin oleh Pancasila dan UUD 1945 yang menjadi pedoman dan aturan hidup seluruh masyarakat berbangsa dan bernegara.

Atas dasar jaminan UUD 1945 tersebutlah, maka pemerintah memiliki kewajiban untuk terus berupaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan yang tidak hanya terlintas saat kampanye pilkada, pilleg maupun pilpres. Namun, harus menjadi bukti konkrit atas keberadaanya sebagai negarawan.

Tanpa bermaksud mengacuhkan keberadaan daerah-daerah lain di Indonesia, yang tersebar dari sabang sampai marauke. Dengan kekayaan dan ciri khas daerahnya masing-masing. Namun, kiranya daerah yang perlu mendapat perhatian lebih baik oleh masyarakat maupun Pemerintah adalah Tanah Papua.

Tanah Papua merupakan aset yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Mulai dari kekayaan masyarakatnya, kebudayaannya hingga Sumber Daya Alamnya. Hal ini tentu patut kita syukuri sebagai kekayaan yang menjadi kebangaan bangsa Indonesia. Karena keberadaan Papua bukan hanya menjadi simbol kenusantaraan Indonesia, namun juga menjadi bukti betapa megahnya Indonesia kita. Kelemahan kita menjaga Papua akan menjadi senjata bagi negara lain untuk menghancurkan kenusantaraan Indonesia ini.

Namun demikian, kiranya perhatian tersebut tidak hanya berpaku pada Pemerintahan Jokowi-JK semata. Masyarakat Papua juga memiliki andil yang cukup besar dalam merancang, merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembangunan yang dilakukan pemerintah. Rakyat Indonesia di Papua tidak dapat serta merta mengandalkan pemerintah untuk merubah nasibnya sendiri. Para tokoh yang ada harus mengambil peran secara maksimal untuk mensejahterakan masyarakatnya. Karena bagaimanapun juga yang memahami dan mengerti kebutuhan daerahnya tentu adalah putra daerah itu sendiri. Seperti janji Jokowi saat kampanye terbuka di lapangan Papua Trade Center (PTC), Lapangan Entrop, Abepura, Jayapura, Sabtu (5/4/2014). Jokowi mengatakan, kurangnya pembangunan infrastruktur di Papua adalah salah satu sumber ketertinggalan dari daerah-daerah lain di Tanah Air. Hal akan teratasi dengan menghubungkan Papua ke pulau-pulau yang lain di Indonesia.

Untuk itu, rakyat Indonesia di Papua harus percaya sepenuhnya terhadap kabinet kerja Jokowi, bahwa pemerintahan saat ini akan berhasil mensejahterakan masyarakatnya, baik sejahtera secara ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Sebagai upaya memudahkan pemerintahan Jokowi-JK dalam mempercepat pembangunan di Papua. Masyarakat di Papua hendaknya tidak mudah terprovokasi oleh upaya oknum tidak bertanggung jawab yang menghendaki kehancuran Indonesia di tanah Papua. Akan tetapi sebaliknya, masyarakat Indonesia di tanah Papua harus mampu memanfaatkan momentum keseriusan Pemerintahan Jokowi dalam program percepatan kesejahteraan rakyat sebagai tonggak perubahan. Perubahan kearah kemajuan pembangunan yang sesuai kultur dan indentitas Papua. Masyarakat Indonesia saat ini pun sudah dapat melihat bukti perhatian  pemerintah Jokowi-JK terhadap masyarakat di Papua. Salah satunya dapat dilihat dari pengangkatan Prof. Yohana Yembise sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Retno Lestari Priansari Marsudi sebagai Menteri Luar Negeri.

Sebenarnya, situasi dan kondisi di Papua sudah membaik, positif, menarik dan kondusif, karena Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten/Kota di Papua terus melaksanakan roda pembangunan untuk menyejahterakan rakyat Papua. Meskipun terdapat beberapa oknum birokrat di Papua yang “masih nakal” atau tidak amanah dalam menjalankan tugasnya, maka situasi ini tidak perlu dipolitisasi karena sudah memasuki ranah hukum maka harus kita selesaikan secara hukum. Papua harus menjadi “avant guard” dalam melaksanakan law enforcement di Papua.

Menjadi suatu kejanggalan tersendiri ketika pembangunan sedang terus dijalankan dan masyarakat pun telah merasa aman dan nyaman. Namun justru masih ada segelitir tokoh Papuayang  masih saja berusaha untuk dapat bergabung dengan Melanesian Spearhead Group (MSG). Tindakan tersebut bisa jadi disebabkan oleh adanya oknum tertentu yang tidak rela dengan integrasi Papua ke NKRI.

Hal lain yang harus diperhatikan oleh masyarakat di seluruh dunia adalah bahwa Papua, sampai kapanpun akan menjadi salah satu Provinsi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), akan selamanya menjadi saudara kandung untuk Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan saudara bagi orang Indonesia lainnya. Tanpa kompromi sedikit pun.

Tidak ada tawar menawar untuk oknum atau kelompok, yang mengatasnamakan untuk kebaikan, kesejahteraan masyarakat Papua, tetapi mendorong adanya pemisahan Papua dari Indonesia. Kita patut cermati dengan seksama, adanya kelompok-kelompok tertentu yang massif menjual isu Papua Merdeka, menjual isu Papua berpisah dari NKRI, tetapi di satu sisi sangat sering berkomunikasi dengan Negara asing dan kontribusi untuk kemajuan Papua sendiri nihil alias nol besar. 

Kelompok-kelompok seperti ini, cendrung sebagai bagian dari kepentingan Asing yang sudah sejak dahulu ingin merebut atau menjajah kembali Indonesia, mengingat Indonesia sebagai Negeri yang kaya dan subur alamnya, sehingga banyak pihak, khususnya Pihak Asing yang terus mengincar sumber daya alam Indonesia dengan berbagai cara, salah satunya dengan menggunakan bangsa Indonesia sendiri untuk memuluskan ambisinya.

Untuk itu, sudah bukan saatnya lagi untuk berfikir melepaskan diri dari NKRI. Karena memang saat ini perhatian pemerintah sudah tertuju sepenuhnya kepada rakyat di Papua. Tindakan rakyat seharusnya lebih difokuskan kepada upaya pengawasan atau pengontrolan kinerja Pemerintah, agar pembangunan tersebut sesuai dengan harapan dan budaya (kulture) masyarakat di Papua. Dengan demikian, melalui dukungan sepenuhnya dari masyarakat di papua, maka dalam waktu singkat tentu akan kita temukan senyum-senyum ceria masyarakat dalam menyambut hari esok yang bahagia.

G.Ariawan Dharmawan, Penulis Adalah Pemerhati Masalah Kebangsaan, Aktif Pada Kajian Arus Kebangsaan untuk Demokrasi.


TAGS :

Komentar

FACEBOOK

TWITTER